Kamis, 22 Mei 2014

Cinta Adalah Engkau

/1/
Cinta adalah Engkau,
rasaMu tak mampu kusebut, kecuali dengan denyut.

/2/
Jalla Jalaluhu,
wujudMu tak mampu kujabar, kecuali dengan debar.

/3/
Rabb,
denganMu kumerasa cukup,

 /4/
Yaa Hu Haqq,
dihadapMu jantungku berdegup.



kris




Rabu, 30 April 2014

Pecinta


/1/
Dibawah selasar langit,
kiniku berdiri.

Saat itu,
kau sisipkan suratan cinta dipelupuk mata,
kau sematkan siratan rindu di ujung waktu.

/2/
Ribuan langkah ku ukur, terpekur.

Bibir kelu, tubuh kaku, semua beku,
terikat waktu.

Berlari kucari, hingga ketepi,
jejakmu sirna tak berbekas, fana.

/3/
Wahai pecinta;

Bawakanku kepingan senja yang kemarin,
karna rasaku masih semu.

kris



Lelaku


/1/
Tangan, kaki, mata, telinga,
malam hening tiada geming,
hingga pagi bening.

/2/
Tangan, kaki, mata, telinga,
ruh keruh, meluruh tubuh,
memaruh subuh.

/3/
Tangan, kaki, mata, telinga,
lidah berbisik, gemerisik,
pagi menelisik.

/4/
Tangan, kaki, mata, telinga,
diri lenyap sirna fana,
jasmani ruhani akal rasa.

/5/
Tangan, kaki, mata, telinga,
nadiMu nadiku terus berdzikir,
enggan lagi pada lidah,
mahu hanya pada Sang empunya rasa.

/6/
Pasrah.

kris


Selasa, 19 Februari 2013

Baqa



/1/
Kami susun sembilan puluh sembilan nafas
Untuk meniru sifat dan hatiMu

/2/
Namun kami ini hanyalah kepunyaanMu sahaja
Kami tidak asli. Kami tak sejati

/3/
Ampuni kami yang selalu merasa dan mengaku
Memiliki satu pantulan cahaya dariMu
Namun tak kunjung tahu, satu rupa yang sejati;
Yakni rupa dari cahaya baqaMu

kris


Rabu, 06 Februari 2013

NafasMU


/1/
Betapa rasa malu menghardik diriku
Tapi hanya inilah sembahyang yang kupunya
Sekedar memasrahkan jiwa yang dungu

/2/
Kenyataan dariMu akan terus menegaskan
Segala hari hari  yang fana adalah hal semu
Juga kesombongan dunia yang menipu

/3/
Ku tahu hanya satu yang sejati, ialah nafasMu hu Allah
Jika haq bagiku, perkenankan rasaku larut dalam rasaMu
Agar sesudah lahirku yang ini, yang nanti takkan mati

kris



Dia Bernyanyi


.
/1/
Reguklah dalam-dalam cinta dunia
Agar bibirmu mampu mengecap

Rasa cinta yang lebih suci
Aku mendengar dan terpikat;
 
/2/
Ruhku bergegas untuk merengkuh
Dekapan penerimaan Cinta,
Karena dia bernyanyi begitu manis.

Rumi
 


Senin, 04 Februari 2013

Kangen ~ 2


Jauh sebelum Bapak Ibu ku mulai bercinta, jauh sebelum aku ada
Tahukah Kau kekasih? Bahwa aku telah kangen Kamu

Ibu sayangiku dengan cinta yang lebih mahal dari mati hidupnya
Dan Bapak menyusun rencana, menyiapkan cita-cita

Aliran darahku tlah mengalir takdir, tubuhku dibungkus adat
Oleh guru diajari kelaziman, momok neraka dan indahnya surga

Kini sesudah jiwa ku papa aku nangis, diam-diam ku menangis;
Dengan cara tertawa, mabuk, gila dan alpa, bahkan mendurhaka

Sebuah bodoh, kuanggap kelahiran hanyalah ci luk ba belaka 
Sambil masih berharap bisa temui Kau yang tunggu aku di sana.

Kekasih, aku yang ciptakan ancaman-ancaman bagi hidupku sendiri
Aku sendiri yang menyulut api yang membakar usiaku kini

Aku yang dulu pernah membangun kesempatan dikeleluasaan ku ini
Kini aku juga yang membuat bumerang menikam robek perutku sendiri

Sekarang,
Masih pantaskah ku mohonkan maaf diatas pengertianMu?

kris