Jauh sebelum Bapak Ibu ku mulai bercinta, jauh sebelum aku
ada
Tahukah Kau kekasih? Bahwa aku telah kangen Kamu
Ibu sayangiku dengan cinta yang lebih mahal dari mati
hidupnya
Dan Bapak
menyusun rencana, menyiapkan cita-cita
Aliran darahku tlah
mengalir takdir, tubuhku dibungkus adat
Oleh guru diajari
kelaziman, momok neraka dan indahnya surga
Kini sesudah jiwa ku papa aku nangis, diam-diam ku menangis;
Dengan cara
tertawa, mabuk, gila dan alpa, bahkan mendurhaka
Sebuah bodoh, kuanggap kelahiran hanyalah ci luk ba belaka
Sambil masih berharap bisa temui Kau yang tunggu aku di sana.
Kekasih, aku yang ciptakan ancaman-ancaman bagi hidupku sendiri
Aku sendiri yang
menyulut api yang membakar usiaku kini
Aku yang dulu pernah membangun
kesempatan dikeleluasaan ku ini
Kini aku juga
yang membuat bumerang menikam robek perutku sendiri
Sekarang,
Masih pantaskah ku mohonkan maaf diatas pengertianMu?
kris

Tidak ada komentar:
Posting Komentar