Rabu, 20 April 2016

Jalan Sunyi

/1/
hadirkan titik cahaya dalam gelap,
lebih baik dari menjadi
cahaya kemilau yang menipu.

dengarkan suara hati dalam keramaian
lebih baik dari menjadi
suara ramai bising yang semu.

/2/
wahai sang hening.

Begitu sering hamba tergelincir oleh
yang diperlihatkan mata.

Juga tersesat oleh
yang diperdengarkan telinga.

/3/
Kan hamba tempuh jalan sunyi
dan pekat penuh rahasia milikmu.

Sunyi yang menampung ruang dan waktu.

Yang tak pernah gaduh oleh jagat seribu.


kris


Senin, 11 April 2016

Cukup

/1/
diam dalam hening
mengolah titik inti
dalam diri

sejenak;

mengalir limpahan
rahmat

/2/
menjadi satu dari berbilang
satu qadha qadar
dalam qudrat iradat kesemestaan

/3/
hidup dan menghidupkan
mengalir dan mengalirkan
dalam harmoni

gerak kita ahad
batil suci sebab akibat
semua larut

dalam diri yang bukan lagi pribadi


kw


Minggu, 01 November 2015

Robithoh


Kesetiaanku dari keberpalingan padaNya, setara dengan keberpalingan Nya padaku.

Tetapkan diri pada, hening bening yang tiada geming.

Merangkai hingga, tubuh luruh memaruh subuh.

Inginku hilang terhempas pada senyap, terabai dan melayang.

Hanya tinggal inginNya.

Lalu semua memudar kosong.

Ini awal mula dari kefana'an.


kris
Banjarsari, 20 Muharram 1437H



Kamis, 22 Mei 2014

Cinta Adalah Engkau

/1/
Cinta adalah Engkau,
rasaMu tak mampu kusebut, kecuali dengan denyut.

/2/
Jalla Jalaluhu,
wujudMu tak mampu kujabar, kecuali dengan debar.

/3/
Rabb,
denganMu kumerasa cukup,

 /4/
Yaa Hu Haqq,
dihadapMu jantungku berdegup.



kris




Rabu, 30 April 2014

Pecinta


/1/
Dibawah selasar langit,
kiniku berdiri.

Saat itu,
kau sisipkan suratan cinta dipelupuk mata,
kau sematkan siratan rindu di ujung waktu.

/2/
Ribuan langkah ku ukur, terpekur.

Bibir kelu, tubuh kaku, semua beku,
terikat waktu.

Berlari kucari, hingga ketepi,
jejakmu sirna tak berbekas, fana.

/3/
Wahai pecinta;

Bawakanku kepingan senja yang kemarin,
karna rasaku masih semu.

kris



Lelaku


/1/
Tangan, kaki, mata, telinga,
malam hening tiada geming,
hingga pagi bening.

/2/
Tangan, kaki, mata, telinga,
ruh keruh, meluruh tubuh,
memaruh subuh.

/3/
Tangan, kaki, mata, telinga,
lidah berbisik, gemerisik,
pagi menelisik.

/4/
Tangan, kaki, mata, telinga,
diri lenyap sirna fana,
jasmani ruhani akal rasa.

/5/
Tangan, kaki, mata, telinga,
nadiMu nadiku terus berdzikir,
enggan lagi pada lidah,
mahu hanya pada Sang empunya rasa.

/6/
Pasrah.

kris


Selasa, 19 Februari 2013

Baqa



/1/
Kami susun sembilan puluh sembilan nafas
Untuk meniru sifat dan hatiMu

/2/
Namun kami ini hanyalah kepunyaanMu sahaja
Kami tidak asli. Kami tak sejati

/3/
Ampuni kami yang selalu merasa dan mengaku
Memiliki satu pantulan cahaya dariMu
Namun tak kunjung tahu, satu rupa yang sejati;
Yakni rupa dari cahaya baqaMu

kris